ISO 45001

Program pembangunan di Indonesia telah membawa kemajuan pesat di beberapa sector industri, seperti sector jasa, infrastruktur, properti, transportasi, perkebunan dan pertambangan. Dibalik kemajuan tersebut ada harga yang harus dibayar masyarakat Indonesia, yaitu dampak negatif yang ditimbulkannya, salah satu diantaranya adalah bencana seperti pencemaran, kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Kondisi ini disebabkan karena tingkat kepedulian perihal keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih rendah.

Setiap tahun ribuan kecelakaan terjadi ditempat kerja, bahkan menimbulkan korban jiwa, kerusakan materi dan gangguan produksi.  Menurut Jamsostek, jumlah kecelakaan kerja di Indoensia pada tahun 2007 tercatat 65.474 kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal dunia. Berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan, jumlah kasus kecelakaan kerja pada tahun 2015 mencapai 105.182 kasus dengan korban jiwa mencapai 2.375 orang. (https://properti.kompas.com/read/2016/11/09/154736121/kecelakaan.kerja.di.indonesia.tercatat.105.182.kasus).  ILO memperkirakan sekitar 337 juta kecelakaan kerja terjadi tiap tahunnya yang mengakibatkan sekitar 2,3 juta pekerja kehilangan nyawa di dunia. 

Mengantisipasi hal tersebut penerapan sistem manajemen K3 di setiap perusahaan wajib diterapkan. Sebelum tahun 2018, standar sistem manajemen K3 yang bersifat sukarela adalah Ohsas 18001 : 2007. Namun sejak 2013, seluruh negara yang tergabung dalam ISO mulai menyusun standar keselamatan dan kesehatan kerja, yang diberi nama ISO 45001.  Diharapkan ISO 45001 ini akan selaras dan dapat diintegrasikan dengan ISO 9001 : 2015 dan ISO 14001 : 2015.  ISO berencana akan mempublikasikan standar ini pada bulan Maret 2018 dan setiap perusahaan yang telah menerapakn OHSAS 18001 : 2007 diberi batas waktu selama 2-3 tahun untuk melakukan migrasi dengan menerapkan ISO 45001.

Di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan SMK3 yang bersifat wajib (mandatory).

Tujuan penerapan system manajemen K3 adalah :

1)     meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi;

2)     mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh; serta

3)     menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk mendorong produktivitas.

Penilaian SMK3 berdasarkan PP No. 50 tahun 2012 terdiri dari 3 (tiga) tingkatan yaitu:

1)     Penilaian Tingkat awal Penilaian penerapan SMK3 terhadap 64 (enam puluh empat) kriteria.

2)     Penilaian Tingkat Transisi Penilaian penerapan SMK3 terhadap 122 (seratus dua puluh dua) kriteria.

3)     Penilaian Tingkat Lanjutan Penilaian penerapan SMK3 terhadap 166 (seratus enam puluh enam) kriteria.

 Tabel tingkat penilaian penerapan SMK3.

Kategori Perusahaan Tingkat Pencapaian Penerapan
0-59% 60-84% 85-100%
Kategori tingkat awal (64 kriteria) Tingkat Penilaian Penerapan Kurang Tingkat Penilaian Penerapan Baik Tingkat Penilaian Penerapan Memuaskan
Kategori tingkat transisi (122 kriteria) Tingkat Penilaian Penerapan Kurang Tingkat Penilaian Penerapan Baik Tingkat Penilaian Penerapan Memuaska
Kategori tingkat lanjutan (166 kriteria) Tingkat Penilaian Penerapan Kurang Tingkat Penilaian Penerapan Baik Tingkat Penilaian Penerapan Memuaska

Dalam rangka meningkatkan dan memberi alternative lain, PT. Agro Teenera Prima hadir dan menawarkan jasa pendampingan OHSAS 18001 : 2007 dan juga  jasa persiapan migrasi menuju ISO 45001.  Kami telah memiliki konsultan dan trainer yang profesional.